Iklan Banner

Sakramen Baptis


1. Sakramen Baptis adalah upacara suci. Dia adalah lambang suci yang memberi tahu kita bahwa (a) Allah menyelamatkan umat-Nya dengan cara “Aku di dalam dia dan ia di dalam Aku” (Yoh 6:56). Baptizzoo berarti menyelamkan. Selam. Dan (b) umat-Nya memaklumkan “Ya, saya mau” “dimasuki” Tuhan dan “dimasukkan” dalam Tuhan, sehingga Citra Allah dipulihkan (Yoh 15:5). “Silakan menggarap aku”, saya mau menyediakan kerjasama yang baik dengan Tuhan.

2. Apa makna Air dalam S.Baptis? Gereja katolik mengimani 3 makna air (a) memberi hidup, (b) membersihkan dan (c) (seperti banjir) memusnahkan dosa dan kejahatan. Tidak harus air kolam renang atau air S.Yordan. Dan tidak boleh air teh atau air kopi (itu bertentangan dengan lambang Tuhan yang membersihkan). Tapi yang penting, air suci atau air bersih, yang bergerak dinamis.

3. Siapa pelayan S.Baptis? Pelayan “biasa” adalah Romo dan diakon. Tapi dalam keadaan darurat, Anda pun boleh membaptis teman Anda sendiri. Syaratnya: keadaan darurat, sakrat maut, Romo tak terjangkau, dan punya maksud baik (Hukum Gereja, Kanon 861 § 2). Caranya. Menuangkan air di dahi dengan kata-kata “Aku membaptis kamu dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus” (Matius 28:19). Jangan ditambahi “… yaitu Yesus Kristus”. Atau ditambah “Amin”. Jangan.

4. Kapan seorang boleh dibaptis? (a) Bayi (orangtuanya Katolik) harus dibaptis sesegera mungkin setelah kelahirannya (Hukum Gereja, Kanon 867). Artinya, sekitar 2-3 bulan setelah kelahiran. Syaratnya menanam benih agar tumbuh jadi pohon besar dan berbuah lebat, adalah, tanahnya harus subur. Orangtuanya katolik. (b) Orang dewasa: Syaratnya: (1) sudah ikut pelajaran agama minimal 12 bulan, (2) pengetahuan agama cukup, (3) beriman (4) hidupnya meniru Tuhan Yesus dan (5) “hidup menggereja”nya atau sosialisasi dirinya sudah baik. (c) Kalau pernah bersekolah di sekolah katolik selama 6-12 tahun: cukup ikut pelajaran agama minimal 7 bulan (diskon 42%). (d) Calon pengantin yang ingin dibaptis, harus ikut pelajaran tidak kurang dari 7 bulan. (e) Orang yang sudah tua (60 tahun ke atas): jika sudah pikun dapat dibaptis dengan persiapan sangat pendek, tapi jika belum pikun, harus menjalani persiapan secukupnya (hafal doa-doa, pengetahuan agama secukupnya, dan ikut kegiatan). (f) Orang gila: jangan dibaptis, kecuali kalau pernah ketika waras, dia pernah menyatakan ingin ikut Tuhan. (g) Dalam bahaya maut: siapapun dapat segera dibaptis asalkan dengan hati yang suci penuh pertobatan.

5. Bolehkah Pelajaran Agama crash program (program cepat-cepat 60x dalam sebulan)? Tidak boleh. Sebab iman dan jiwa sosial (sebagai syarat Baptis dan tanda seorang terlepas dari kuasa kegelapan) ibarat benih, tidak mungkin tumbuh dan berbuah dalam waktu sebulan. Iman perlu waktu minimal 12 bulan untuk tumbuh (walaupun itu bukan jaminan)

6. Syarat dibaptis: kehidupan calon Baptis sudah meniru Tuhan Yesus. Bagaimana? Seperti dalam Sabda Bahagia (Mat 5:3-12) yang diringkas jadi Tiga Nasihat Injil:  berjiwa miskin, taat dan suci. (a) Berjiwa miskin (ay.3). Hidupnya bergantung hanya pada Allah bukan pada harta. (b) Taat (ay.6,10,11). Punya “tuan” (Allah) & selalu menuruti perintah-Nya. Kalau ditegur, dalam hati dia berkata ”Ya. Tuanku juga menyuruh begitu”. (c) Hidup suci (ay.8) bersih dari dugem (dunia gemerlap malam hari), tak mengejar kenikmatan diri. Seutuhnya hidup untuk Tuhan & sesama.

7. Calon baptis harus mengumpulkan tanda-tangan, bukti ikut kegiatan Lingkungan dan Misa Minggu. Kenapa? Karena “mampu hidup-bersama & untuk orang lain” (sosialisasi diri & hidup “menggereja”) itu tanda seorang mulai dikuasai Roh Kudus, dipulihkan hidup ilahinya (hubungan kasih dengan Allah), dalam hatinya tumbuh kasih (= rela korban diri demi kebahagia- an orang lain) dan tumbuh jiwa sosial dan semangat persaudaraan. Ukurannya bukan 1000 tanda tangan atau derma yang banyak, tapi sosialisasi dirinya bagus. Bukan hanya akrab dengan Romo tapi terutama dengan umat Lingkungan. Sebaliknya, egoisme dan tidak mampu hidup-bersama & untuk orang lain itu tanda seorang masih dikuasai kuasa kegelapan. Maka orang yang masih sangat egois, artinya, masih anti Roh Kudus, jangan minta cepat-cepat dibaptis.

8. Dulu setahu kita, tanda orang yang sudah dikuasai Roh Kudus itu, dermanya untuk gereja, banyak; orang yang saleh itu rajin doa dan baca Firman; dan orang yang dewasa itu umurnya banyak, rambut beruban dan perilakunya anggun. Ternyata tidak demikian. Tapi tandanya adalah hidupnya dibaktikan kepada Tuhan dan sesama. Contohnya Yesus, santo-santa, orangtua kita dsb. Tapi sifat egois (tidak sosial) adalah tanda seorang masih dikuasai kuasa kegelapan.

9. Ada 7 Rahmat S.Baptis: (1) Rahmat Pengudus dan Rahmat Pembantu, (2) Dibebaskan dari dosa asal dan diampuni dosa pribadinya, (3) Dipulihkan kemanusiaannya, Citra Allah dan status anak Allah, (4) Menerima meterai kekal. S.Baptis itu terpateri dalam hati tanpa dapat dihapus lagi. Abadi. Sekali menjadi “anak Allah” maka untuk selamanya menjadi “anak Allah”. (5) Menjadi anggota Keluarga Allah, (6) Diangkat menjadi imam-nabi-raja. (7) Menerima warisan surga.

10. Baptisan rindu. Calon Baptis yang hidupnya sangat saleh, lama tidak kunjung dibaptis, lalu meninggal. Baptisan Darah. Calon Baptis yang sudah beriman dan saleh, dibunuh karena nama Yesus. Baptisan Api. Penderitaan ekonomi-sosial-politik-sakit-fisik yang sangat berat itu bagai-kan api. Kalau seorang (sudah baptis) imannya hanya “jerami”, karena itu cepat jadi abu (murtad). Tapi kalau imannya “intan” dia bertahan terus malah bersinar-sinar sementara yang lain jadi abu.

Aku membaptis kamu dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus

(Matius 28:19)

RD B. JUSTISIANTO

Sumber : https://www.santoyakobus.org/2015/2012/02/sakramen-baptis/

Terima Kasih Sudah Membaca Artikel : Sakramen Baptis. Silahkan Dibagikan...!

Potret Stasi St. Fransiskus Segonde

Media Informasi Kegiatan Umat Katolik Stasi St. Fransiskus Segonde, Dalam Segala Aspek, Baik Secara Jasmani maupun Rohani
Previous
« Prev Post

Tulisan Terkait

    Tulis
    Facebook
Iklan Banner